Senin, 14 November 2011

MAKALAH KRISIS TEORI PEMBANGUNAN dan GLOBALISASI TEORI PEMBANGUNAN

KRISIS TEORI PEMBANGUNAN dan
GLOBALISASI TEORI PEMBANGUNAN
Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Pembangunan Ekonomi Indonesia



Disusun Oleh:
Afian Bayu Saputra 1002020007
Amalia Rizqie DS 1002040001

Fakultas Ekonomi Universitas Wisnuwardhana
Malang
2011/2012

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kesejahteraan masyarakat adalah aim atau tujuan pemerintah ketika pemerintah mulai menjalankan proses pembangunan dalam suatu Negara. Namun, keadaan sosial dan politik di masyarakat yang dinamis seringkali menyebabkan gagalnya strategi pembangunan yang digunakan. Kegagalan pembangunan inilah yang disebut sebagai krisis teori pembangunan.
Strategi pembangunan tentunya dari teori-teori ekonomi yang sudah ada dan peyebab gagalnya teori ini digunakan ini seringkali disebabkan oleh penggunaan teori secara mentah oleh pencetus pembangunan itu sendiri. Sumber-sumber teori ekonomi yang kebanyakan bersumber dari ekonom Negara Barat tentunya akan kurang efisien jika diterapkan pada Negara-negara Sedang Berkembang (NSB) yang berada di kawasan Benua Afrika dan Asia kebanyakan. Namun gagalnya suatu teori pembangunan tidak bisa hanya dikategorikan terjadi pada NSB. Karena setiap Negara di dunia memiliki problem masyarakat, walaupun berbeda di masing-masing Negara, yang tentunya sangat kompleks namun sangat mempengaruhi unsur-unsur politik dan sosial di Negara tersebut. Itulah mengapa banyak sekali terjadi kegagalan teori pembangunan di Negara-negara diseluruh dunia.
Aim pemerintah dalam menyejahterakan rakyat memliki hambatan dan tantangan yang rumit karena untuk mencapai tujuan tersebut, banyak sekali pertimbangan dan keputusan yang dibuat. Pertimbangan dan keputusan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi politik dalam Negara, dan kadang tidak jarang keputusan yang diambil pemerintah sendiri-lah yang menyebabkan gagalnya suatu teori pembangunan. Akibatnya tidak hanya krisis teori pembangunan yang terjadi tapi juga dampak buruk yang terjadi di masyarakat misalnya kesehatan masyarakat yang menurun, tingkat harapan hidup merosot, kemiskinan dimana-mana, angka kriminalitas bertambah yang akhirnya moral masyarakat menjadi hancur. Akibatnya Negara tersebut terkurung dalam lingkaran setan yang tidak berujung.



Batasan Masalah
1. Apa yang disebut sebagai Krisis Teori Pembangunan dan apa saja penyebab krisis tersebut?
2. Apa yang dimaksud dengan Globalisasi Teori Pembangunan?
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui arti dari Krisis Teori Pembangunan dan penyebab krisis tersebut.
2. Memahami pengertian Globalisasi Teori Pembangunan.















BAB II
ISI
BAGIAN 1
KRISIS TEORI PEMBANGUNAN
Dalam pembahasan bagian pertama ini akan dijelaskan mengenai kegagalan suatu proses pembangunan dalam teori pembangunan. Terdapat tiga krisis yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Krisis teori pembangunan merupakan kritikan mengenai kegagalan suatu teori yang digunakan sebagai strategi pembangunan dan kegagalan tersebut terjadi karena tidak sesuai dengan atmosfir masyarakat di Negara tersebut.
Krisis teori ini utamanya terjadi karena penggunaan teori yang tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan keadaan masyarakat di suatu Negara. Akibatnya bukan kesejahteraan masyarakat yang berhasil dicapai, tapi justru masyarakat semakin menderita karena pada kasus yang sering terjadi hanya pihak-pihak tertentu saja yang merasakan manfaat dari proses pembangunan
Sumber-sumber teori pembangunan yang banyak datang dari Negara Barat, pada periode tahun 1950-1960an banyak digunakan oleh NSB, bahkan tanpa pengejawantahan atau digunakan secara serta-merta tanpa disesuaikan dengan kondisi sosio-politik masyarakat. Kegagalan teori pembangunan sudah bisa dipastikan tidak dapat dihindari. Kondisi di Negara berkembang yang demikian kompleks memerlukan strategi pembangunan yang lebih canggih karena kondisi dasar Negara pada NSB jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan Negara maju, apalagi asumsi yang digunakan dalam teori pembangunan hanya hanya mengacu pada kondisi Negara maju dimana Teori Pembangunan itu terlahir.
Karena penggunaan teori yang secara mentah-mentah, ini tentunya menyebabkan hasil yang dicapai setelah digunakannya Teori Pembangunan yang tidak disesuaikan dengan dasar Negara terlebih dulu yaitu kesalahan penggunaan instrumen-instrumen pembangunan yang tidak sesuai dengan aspek dalam mesyarakat yang akan diperbaiki. Akhir dari penerapan teori yang dipaksakan adalah timbulnya kondisi di Negara sedang berkembang yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan kondisi semula.
Suatu prestasi pembangunan tidak bisa hanya diukur dengan penghitungan kuantitatif. Misalnya pendapatan perkapita (GNP per kapita) karena GNP per kapita hanya mengimplementasikan pendapatan rata-rata penduduk suatu Negara per-harinya. Padahal tidak semua penduduk di suatu Negara memiliki rata-rata pendapatan yang sama. Bahkan tingkat GNP per kapita yang tinggi bisa diartikan Negara tersebut sedang dalam kesenjangan sosial yang parah,artinya distribusi pendapatan hanya dinikmati oleh golongan-golongan tertentu. Akibatnya yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Tentunya bukan hal ini yang dijadikan tujuan pembangunan.
Para Ekonom kemudian memasukkan unsur sosio-politik pada strategi pembangunan yang mereka gunakan. Muncullah pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dsitribusi pendapatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, padahal bukan ini tujuan pembangunan. Hal tersebut merupakan salah satu contoh dari krisis Teori Pembangunan. Istilah krisis sebenarnya merupakan istilah yang digunakan oleh ekonom kiri karena ketidakpuasan mereka akan Teori Pembangunan yang tidak berhasil diterapkan di Negara mereka.
Beberapa Ekonom dunia seperti Marx menyebutkan dalam teorinya bahwa pada Negara kapitalis pun krisis Teori Pembangunan bisa terjadi akibat timbulnya kelas dan eksploitasi pekerja dan meyebabkan kapitalisme menjadi rentan dalam jangka panjang dan kemudian digantikan oleh sosialisme. Pada tahap ini krisis berada dalam tahap transisi. Pada tahap transisi ini justru sering terjadi kesalahpahaman mengenai krisis global atau partial, yang akhirnya menyebabkan muncul konsepsi dependensia yaitu Globalisasi Ekonomi semakin memperparah ketergantungan Negara berkembang terhadap Negara maju. Tindak eksploitatif Negara maju terhadap NSB memperparah tingkat ketergantungan yang muncul. Ketidkpuasan ini akhirnya memicu timbulnya system revolusi yang dilakukan oleh para buruh.
Sedangkan itu, faham Neo-Klasik berpendapat campur tangan pemerintah harus diusahakan seminimal mungkin karena teori ini menganut anggapan justru campur tangan pemerintah yang mengakibatkan distorsi pada perekonomian. Padahal Keynes justru berpendapat campur tangan pemerintah mutlak diperlukan karena tidak ada mekanisme pasar yang sempurna. Teori Fordisme mengatakan suatu proses pembangunan bisa gagal akibat campur tangan pemerintah yang tidak tepat.
2. Krisis pembangunan dunia nyata adalah strategi pembangunan yang kurang sesuai akibat kondisi intern yang kurang sesuai dengan penerapan teori pembangunan yang mengakibatkan strategi pembangunan tidak berhasil.
Selain krisis teori,tidak dipungkiri dapat terjadi krisis dalam proses pembangunan itu sendiri.Suatu kegagalan proses pembangunan tidak hanya terjadi pada Negara-negara berkembang, tapi pada semua kategori-kategori Negara di dunia, yaitu Negara Dunia Pertama, Kedua dan Ketiga. Berikut kami jelaskan krisis-krisis yang dapat terjadi pada masing-masing kategori diatas.
a) Krisis di Negara Dunia Pertama
Banyak sekali anggapan bahwa sebagai Negara Dunia Pertama, terjadinya krisis Teori Pembangunan, Negara-negara di Amerika Utara dan Eropa Barat tidak mengalaminya. Padahal sebagai Negara maju, meskipun keadaan masyarakatnya yang tidak sekompleks penduduk di Negara berkembang, penduduk disana memiliki gaya hidup yang jauh lebih dinamis. Inilah yang menyebabkan banyak muncul masalah sosial dalam masyarakatnya. Ketidakpuasan.
Akibat dari pertumbuhan ekonomi yang maju dan kinerja pembangunan yang mengagumkan, namun tampaknya pemerintah mulai kewalahan dalam menjawab tantangan disparitas distribusi distribusi pendapatan sehingga angka pengangguran juga semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh ketidakpuasan yang para buruh alami sebab gaji yang mereka dapat dibawah standar upah yang mereka inginkan dan jenis pekerjaan yang mereka inginkan.
Selain itu imigran-imigran dari berbagai penjuru dunia, baik yang resmi maupun tidak juga mempengaruhi tingkat kepadatan penduduk dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia. Bagi kelompok imigran yang mau bekerja keras, mendapatkan kehidupan yang layak merupakan hal yang bisa dicapai, tapi bagi mereka yang tidak sukses terpuruk menjadi problema sosial bagi pemerintah.
Munculnya neo-fasisme, rasisme dan peningkatan kriminalitas merupakan wujud ketidakpuaasan yang dilakukan oleh generasi muda. Problematika menghadapi kebangkitan Negara-negara berkembang yang mulai maju dalam bidang industri juga tantangan bagi Negara Dunia Pertama. Ini menunjukkan bahwa perekonomian di Negara Barat telah mencapai titik jenuh yang menunjukkan tren menurun. Diperlukan berbagai rekayasa dalam sistem perekonomian mereka untuk mampu menjawab tantangan berat dari Negara-negara sedang berkembang yang bangkit ini.
b) Krisis di Negara Dunia Kedua
Krisis di Negara Dunia Kedua berbeda dengan Krisis di Negara Dunia Pertama. Krisis yang terjadi di Negara Dunia Kedua lebih bertendensi pada krisis ideologis. Akibat krisis ideologis, maka yang terjadi selanjutnya yaitu peralihan sistem politik. Misalnya yang terjadi di Negara-negara Eropa Timur, sistem politik Negara-negara tersebut beralih dari sosialis-komunis menuju ke perekonomian liberal. Salah satu Negara yang ambruk karena peralihan ini yaitu Uni Soviet. Peralihan ini disebabkan karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem ekonomi yang diterapkan pemerintah dengan tujuan menyejahterakan rakyatnya.
Pengertian keadilan absolut yang diterapkan oleh Negara-negara komunis justru memancing semakin banyak muncul kaum-kaum borjuis yang menciptakan kelas-kelas baru di masyarakat. Apalagi aspek politik selalu lebih diprioritaskan dalam pembentukan Negara komunis. Pada akhirnya aspek ekonomi rakyat selalu tunduk kepada aspek politik. Pembangunan Negara komunis hanya dipusatkan pada kepentingan politik. Sistem politik di Uni Soviet menjadi prioritas yang diutamakan oleh pemerintah dan ekonomi rakyat menjadi terbengkalai. Akhirnya masyarakat pun bertanya-tanya sampai sejauh mana dana yang tersedia cukup untuk dialokasikan bagi pembangunan politik ini. Akibat keresahan yang berlarut-larut akhirnya masyarakat menuntut perubahan sistem politik dan ekonomi. Inilah penyebab Uni Soviet bubar dan digantikan oleh beberapa Negara pecahan Uni Soviet.
Krisis yang terjadi di Amerika Selatan disebabkan oleh mismanagement hutang luar negeri oleh pemerintah. Utang luar negeri habis digunakan untuk pembelian barang mewah dan praktik korupsi.
Hal-hal lain yang menyebabkan krisis di Negara tersebut yaitu sering terjadi perebutan kekuasaan oleh pihak-pihak penguasa dan tingkat inflasi yang tinggi. Tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan atmosfir investasi menjadi macet akibatnya perkembangan perekonomiaannya “berjalan di tempat”,artinya tidak ada perubahan yang lebih baik. Justru bertambah parah. Pengangguran juga menjadi penyebab utama krisis di Negara tersebut. Pengangguran-pengangguran ini banyak berasal dari imigran-imigran gelap dan dampak yang terjadi juga ikut mempengaruhi Negara-negara lain, misalnya Amerika Utara, karena imigran-imigran ini menetap menjadi penduduk kumuh dan tanpa pekerjaan. Walaupun sudah mendapatkan dana bantuan dari Amerika Utara, namun perkembangan yang ditujukkan tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Keadaan Amerika Selatan ini memunculkan teori dependensia yang tesisnya didasarkan pada pandangan Marx,bahwa interaksi antara Negara-negara di Amerika Latin dengan Negara-negara maju hanya menguntungkan sebelah pihak dan eksploitatif. Pemberian bantuan dari Negara maju kepada Negara miskin justru meningkatkan ketergantungan NSB dan bargaining position-nya menurun. Akibatnya pemaksaan kepentingan Negara-negara yang memberikan bantuan meningkat sejalan dengan pemberian bantuan.
Ekonom yang tidak setuju dengan pendangan diatas akhirnya merekomendasikan dua pendapat. Pendapat pertama ekonom berisi mengenai isolasi Negara dari hubungan dengan dunia internasional terutama Negara-negara maju. Pendapat satunya lagi lebih bersifat kooperatif, namun mereka juga tetap mencari alternatif untuk mencari metode untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Munculnya teori pembangunan di Negara-negara maju yang kemudian dianggap lebih bersifat Eurosentris (bias ke Eropa). Akibatnya asumsi-asumsi dasar yang muncul hanya bisa diterapkan di Negara-negara maju. Teori pembangunan Eurosentris ini merajuk pada pandangan neo-klasik. Teori ini berpandangan bahwa campur tangan pemerintah hasur dilakukan seminimal mungkin, karena campur tangan pemerintah selalu mengakibatkan distorsi pasar. Oleh sebab itu teori neo-klasik hanya bisa diaplikasikan di Negara-negara maju dimana sistem harganya sudah stabil.
c) Krisis di Negara Dunia Ketiga
Krisis yang terjadi di Negara Dunia Ketiga memiliki dua pola, yaitu krisis yang terjadi di Afrika berupa bencana kelaparan dan juga diperparah dengan masalah etnis yang sering mengakibatkan peperangan antarsuku dan Negara.
Sementara di Asia, krisis etnis merupakan problema potensial yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Misalnya perseteruan antara Korea Selatan dengan Korea Utara. Selain krisis yang disebabkan oleh perang etnis, krisis di Asia juga disebabkan oleh praktek korupsi, kolusi dan nepotisme di berbagai Negara. Otomatis keadaan politik yang dipenuhi dengan praktek KKN akan menghambat pembangunan di Negara tersebut.
3. Krisis institusi kenegaraan yaitu kegagalan strategi pembangunan yang disebabkan oleh campur tangan pemerintah.
Awal krisis dari proses pembangunan yang dilaksanakan NSB yaitu ketika pada era tahun 1950-1960an, konsep pembangunan lebih menekankan pada keberhasilan pertumbuhan ekonomi masyarakat secara kualitatif. Sehingga konsep ini menjadi tolak ukur pembangunan dan menjadi tujuan utama dari proses pembangunan di NSB. Ini artinya,tujuan pembangunan lebih ditekankan pada pembangunan secara umum, dan bukan peningkatan kesejahteraan yang merata antar individu.
Dalam pembahasan pembangunan, asumsi yang muncul selalu pembangunan ekonomi dapat selalu dipisahkan dari permasalahan-permasalahan politik. Tapi yang nyata terjadi justru tujuan pelaksanaan pembangunan selalu dibarengi dengan tujuan-tujuan politik, bahkan kadang kendala pembangunan muncul dari dari aspek politik suatu negara tersebut. Akhirnya tujuan dan proses pembangunan harus tunduk kepada politic will yang ada. Hal ini sering sekali terjadi pada NSB, sehinga muncul ketidakjelasan untuk siapa hasil pembangunan ditujukan.
Apabila suatu pembangunan mulai berorientasi pada aspek politik, mainstream pembangunan menekankan proses pembangunan sebagai proses pembentukan national building. Konsepsi pembangunan yang berorientasi pada pembangunan kekuatan politik dan militer inilah yang justru menciptakan krisis pembangunan itu sendiri.
Upaya penggalangan kekuatan nasional yang menitik beratkan pada aspek dan militer tentunya membutuhkan alokasi dana yang melimpah dan menempatkan prioritas pembangunan ekonomi di daftar setelah pembangunan dua aspek diatas. Alokasi sumber daya yang tidak efisien menjadi konsekuensi yang harus diterima. Kesalahan alokasi inipun bisa menjadi ladang uang bagi para pemegang kekuasaan untuk mempertahankan kekuasaannya. Hal inilah yang sudah sangat sering terjadi, proses pembangunan politik dan militer seringkali didasarkan pada emosi dan kehendak segelintir pemegang kekuasaan yang bersangkutan.
Kegagalan pembangunanpun tak diragukan akan terjadi dan akibatnya rakyat yang menjadi korban, beban hidup mereka bertambah berat. Strategi pembangunan pada tahap ini tidak lagi dapat dipisahkan dari strategi penggalangan kekuatan nasional. Strategi yang semakin berkembang tentunya akan mempengaruhi jumlah dana yang dibutuhkan. Akhirnya arus dana investasi dan dana kesejahteraan. Dari gambaran diatas tentunya sudah dapat disimpulkan terdapat ¬misusing dana bagi dan oleh masyarakat. Akibatnya beban yang ditanggung masyarakat bertambah berat.
Padahal sesungguhnya proses pembangunan yang baik sebenarnya terletak pada aspek pendidikan dan ideologi masyarakat. Jika aspek politik dan militer tetap dijalankan, maka lama-kelamaan akan muncul pemerintahan yang diktator. Di sisi lain,jika pembangunan berorientasi pada pendidikan masyarakat, maka sumber daya manusia yang ada akan siap dimanfaatkan untuk mengembangkan pembangunan selanjutnya.
Secara teori, permasalahan keamanan dan pembangunan dapat diatasi dengan beberapa strategi pembangunan,antara lain:
1) Basic Need Strategy merupakan strategi pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, sehingga dapat meredam kemungkinan munculnya konflik internal.
2) Self-reliance Strategy dapat dijadikan jalan keluar untuk problema eksternal dari industrialisasi, yaitu peningkatan daya saing.
3) Sustainable Development merupakan strategi pembangunan yang mampu mengatasi kelangkaan sumber daya.
Strategi-strategi diatas lebih sering digunakan oleh NSB dalam proses pembangunan jangka panjang.








BAGIAN 2
GLOBALISASI TEORI PEMBANGUNAN.
Di dalam suatu Teori Pembangunan Internasional, tidak dapat dipungkiri terdapat ketergantungan Negara satu dengan Negara lain, disebut juga teori interdependensi. Walaupun terdapat wacana mengenai faktor endogen dan eksogen yang secara teori dapat dipisahkan, tapi dilihat dari hubungan-hubungan Negara di dunia, kedua faktor tersebut tidak dapat dipisahkan.
Artinya, suatu Negara dengan Negara lainnya membutuhkan kerjasama satu sama lain untuk menyukseskan proses pembangunan ekonomi yang mereka lakukan. Kesadaran akan ketergantungan antara satu Negara dengan Negara lain inilah yang mendasari pemikiran akan perlunya suatu konsep yang menjembatani berbagai kepentingan, khususnya dalam bidang ekonomi.
Terdapat dua pendapat mengenai konsep interdependensi, yaitu:
1) Konsep interdependensi merupakan penyempurnaan dari teori dependensia, yang pada dasarnya ingin menjelaskan struktur ekonomi global yang semakin kompleks daripada sekedar dikotomi daerah pusat-periferi. Kompleksitas ini merupakan refleksi dari meningkatnya persaingan di dalam Negara-negara pusat. Misal Eropa Barat semakin independent dari AS dan Eropa Timur. Adanya industrialisasi di Negara-negara periferi misal Korea Selatan, deindustrialisasi di Negara-negara pusat, misal Inggris, dan munculnya kekuatan-kekuatan regional di Brazil,India dan Nigeria.
2) Konsep interdependensi menyiratkan bahwa manusia di planet bumi berada dalam “satu perahu” yang sama, namun pendapat ini melupakan fakta bahwa tidak semua manusia memiliki tujuan sama dan proses mencapai tujuan yang berbeda.
Kedua pendapat diatas tentunya dapat disimpulkan bahwa interdependensi merupakan konsep yang ambivalen dan relatif terbatas manfaatnya. Namun,teori interdependensi ini dapat dijadikan sebagai titik awal untuk mencari pendekatan baru dalam menganalisis pembangunan nasional dalam perspektif global.
Dalam bagian ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang berkaitan dengan konsep interdependensi dan dependensi dalam globalisasi pembangunan.
A. Dari Dependensi Menuju Interdependensi
Terdapat tiga dimensi yang mendasari munculnya konsep interdependensi sebagai teori pengembangan dari teori dependensi.
Dimensi fisik yang muncul pertama kali pada tahun 1970an. Yaitu dimensi yang memunculkan kesadaran akan adanya “satu bumi”, dimana kegiatan suatu Negara akan mempengaruhi keseimbangan lingkungan secara global. Hal ini semakin diperkuat dengan diadakannya Konferensi Lingkungan oleh PBB pada tahun 1972.
Dimensi ekonomi pertama kali dikemukakan dalam proposal yang diajukan oleh Komisi Brandt atau Brandt Commision Report pada tahun 1980. Proposal tersebut menghendaki adanya hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. Diharapkan ada win-win solution, bukan lagi zero sum game yang sebagaimana diterapkan dalam konsep dependensi.
Dimensi fisik dan ekonomi diharapkan dapat menciptakan adanya kerjasama yang mendorong adanya perdamaian dan pembangunan dunia. Perkembangan konsep dependensi menjadi interdepedensi ini mengakibatkan adanya transisi perekonomian dunia. Hettne (1991,177-8) memaparkan kondisi pendukung yang menunjang dalam transisi perekonomian dunia.
Kondisi pendukung pertama yaitu berkembangnya aliran pola dana dan investasi dengan adanya kenaikan harga minyak bumi pada 1970an. Ini merupakan stimulant bagi Negara-negara maju untuk meningkatkan pengeluaran mereka untuk mengembangkan industri dengan membeli minyak bumi ke Negara Dunia Ketiga penghasil minyak. Tambahan surplus bagi Negara Dunia Ketiga ini memicu industrialisasi dan teknologi-teknologi baru dan juga tumbuhnya pasar-pasar hasil industri.
Perkembangan ini selanjutnya akan mempengaruhi pola investasi di Negara Dunia Ketiga tersebut. Negara industry akan mengalokasikan dana mereka untuk menanamkan modal. Hal ini didukung dengan perkembangan alat transportasi dan komunikasi yang memungkinkan penyederhanaan dalam proses industri.
Globalisasi investasi mendorong tumbuh dan menyebarnya perusahaan transnasional (TNC). TNC semakin berkembang pesat dalam perekonomian dunia yang akhirnya faktor-faktor produksi (modal, tenaga kerja, tanah) menjadi tidak relevan dengan TNC.
Kemudian muncul GATT (General Agreement on Tariff and Trade) yang merupakan penarik utama di sisi permintaan (Demand pull). GATT melengkapi investasi dari Rencana Marshall (Marshall Plan), tarikan permintaan dilakukan melalui perluasan perdagangan yang saling menguntungkan dan dampak virtuous circle-nya melalui angka pengganda ekspor yang terhadap kesempatan kerja, pendapatan, dan investasi. Para industrialis AS berargumen bahwa ekonomi Negara Eropa Barat dibantu oleh Marshall Plan, dan sekaligus merupakan proses terbukanya akses bagi komoditi produksi AS ke pasar Eropa. Padahal ini hanyalah ambisi Keynes untuk membentuk Organisasi Perdagangan Internasional (ITO). ITO tidak disetujui oleh AS dan proposal liberalisasi mendapat tentangan keras dari India, Australia dan Negara-negara lain. GATT hanya menjadi kompromi sementara dan yang menjadi tujuan utama GATT yaitu pengurangan tariff, pelarangan hambatan kuantitatif dan non-tarif lainnya dan penghapusan distribusi perdagangan yang telah berperan dalam membentuk arah perdagangan global.
B. Pendekatan dalam Konsep Interdependensi
Sistem kapitalisme Negara Barat telah dikenal sejak abad ke-16 yang kemudian berkembang dan menyatukan wilayah-wilayah yang semula terisolasi maupun wilayah-wilayah yang telah mampu mencuku kebutuhan masyarakatnya secara mandiri. Perkembangan sistem kapitalisme ini mengandung dua dimensi, yaitu ekspansi secara geografis dan ekspansi di bidang social ekonomi. Ekspansi ini menumbuhkan adanya daerah-daerah semiperiferi disamping daerah pusat (core) dan daerah pinggiran (periferi). Daerah pusat artinya daerah yang mengutamakan hasil produksi dari industri sedangkan daerah pinggiran merupakan daerah utama penghasil produk pertanian. Daerah semiperiferi adalah daerah transisi antara pusat dan pinggiran, produk yang dihasilkan lebih mengarah pada produk-produk industri walaupun masih terdapat produk pertanian.
Walaupun pendekatan dalam konsep dependensi dan interdependensi sama-sama bersifat kapitalis,namun justru lebih ditekankan adanya kerja sama antara daerah inti dengan periferi. Pendekatan ini bertujuan daerah periferi berubah menjadi semiperiferi dan daerah semiperiferi menjadi daerah inti. Hingga saat ini perkembangan finansial secara global tampak pesat. Globalisasi telah mengubah pola hubungan finansial, proses produksi, perdagangan, teknologi informasi dan hubungan ekonomi lainnya yang akhirnya menyatukan perekonomian di seluruh dunia.
Dari konsep interdependensi inilah yang menyebabkan Negara maju yang industrial akan merasakan dampak yang terjadi bila Negara Miskin sebagai Negara pemasok bahan baku perindustrian mengalami masalah internal. Dan jika terjadi masalah internal pada Negara-negara maju yang menyebabkan, misalnya anjloknya harga minyak dan komiditi primer lainnya ini juga akan mempengaruhi NSB. Hal yang akan dilakukan selanjutnya yaitu mengkaji ulang strategi pembangunan yang diterapkan. Inilah yang disebut dengan peyesuaian struktural terhadap goncangan eksternal.
C. Strategi Pembangunan dan Sistem Dunia
Dalam teori pembangunan modern, terdapat dua komponen utama, yaitu tujuan akhir dari pembangunan dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembangunan. Kedua komponen di atas dapat dilihat secara eksplisit dalam perencanaan pembangunan suatu Negara. Strategi pembangunan Negara merupakan cerminan dari kemampuan suatu Negara untuk bertindak, tentunya sesuai dengan keadaan penduduk dalam Negara tersebut dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam arti materiil dan dikaitkan dengan sumber daya manusia dan alam yang dipunyai serta berkaitan dengan dunia internasional.
i. Upaya Reformasi Global
Interpretasi mengenai pembangunan global tergantung dari sejauh mana kita memahami konsep interdependensi. Contoh dari upaya reformasi global yaitu Tata Ekonomi Dunia Baru dan usulan komisi Brandt merupakan contoh gerakan reformasi global. Ini dikarenakan setiap langkah atau strategi yang digunakan suatu Negara mempengaruhi Negara lainnya. Konsekuensinya perubahan yang diajurkan adalah perubahan sistem secara keseluruhan. Problem utama dari perubahan system ini yaitu siapakah yang dinamakan agen perubahan?
Kedua konsep ini sering dikaitkan dengan intervensi konsep interdependensi dan dependensi sehingga amat sering dikaitkan dengan Negara sebagai aktor utama.
Tata Ekonomi Dunia Baru (NIEO atau New International Economic Order) lebih merupakan strategi politik daripada strategi ekonomi. Gerakan ini adalah ekspresi solidaritas dari Negara-negara Dunia Ketiga yang menghendaki gerakan secara swadaya secara kolektif. Strategi yang digunakan yaitu menyatukan jalur utama dalam perdagangan dan Negara-negara industri dan akses terhadap teknologinya. Namun strategi ini tidak diikuti dengan penjelasan yang jelas mengenai siapa pelaku yang akan melakukannya.
Laporan Komisi Brandt (1980) yang berjudul “North-South: A Programme for Survival” berisi dialog Utara-Selatan menghadapi masalah yang sama. Usulan ini didasarkan pada konsep interdependensi dan hasil yang diperoleh yaitu dialog Utara-Selatan ini mengalami kemacetan sebab Negara-negara kaya tidak dapat memenuhi permintaan yang dinyatakan dalam dokumen NIEO. Laporan Komisi Brandt ini lebih cenderung bersifat Global Keynesianism artinya lebih menganut pada konsep Keynes, yaitu penduduk miskin global merupakan salah satu fungsi dari sistem Keynes yang menganggur sehingga bila mereka menggunakan sumber-sumber keuangannya untuk membeli barang-barang produksi Negara maju, maka masalah ekonomi dengan sendirinya terpecahkan. Inilah yang disebut dengan Massive Resource Transfer.
Usulan Keynes ini tidak bisa diterima sebab usulan ini sangat bervariasi tergantung pada ideologi pembangunan yang dianut suatu Negara. Bagi penganut “aliran kanan baru” liberalisme radikal tidak dapat diterima, karena mereka menghendaki NSB menyeimbangkan anggaran negaranya, meliberalkan perekonomian, dan mengidentifikasi keunggulan komparatif yang dimiliki. Sedangkan menurut para penganut “aliran kiri”, keuntungan yang didapat oleh Utara-Selatan masih menjadi pertanyaan sebagaimana tesis interdepensi dan menurut mereka integrasi Dunia Ketiga ke dalam sistem interdependensi dunia global justru akan meningkatkan konflik dibandingkan mendatangkan stabilitas.
ii. Percobaan untuk Memisahkan Diri (Delinking)
Self-reliant telah dicoba oleh beberapa Negara. Misalnya Tanzania, Ghana, Jamaica, Nikaragua, dan Burma. Namun strategi yang mereka gunakan ternyata salah, kebanyakan diakibatkan kesalahan intern pemerintah yang akhirnya menyebabkan IMF justru turun tangan untuk memberikan bantuan restrukturisasi ekonomi.
Akibat kegagalan-kegagalan yang terjadi, muncul reaksi terhadap teori dependensia dan pesimisme terhadap strategi pembangunan mandiri. Strategi pembangunan mandiri dan strategi radikal lainnya selalu bertabrakan dengan alasan ekonomi dan politik. Alasan ekonomi yang muncul yaitu perubahan nilai tukar perdagangan seperti harga impor untuk komoditi energy,makanan, dan barang modal serta menurunnya harga komoditi primer yang masih merupakan produk unggulan dikebanyakan NSB. Alasan politik yang muncul adalah adanya kebutuhan untuk memangkas para sekutu dan konsolidasi control dari dua “raksasa”: AS dan Uni Soviet.
Kegagalan implementasi strategi pembangunan mandiri harus dipahami dalam kerangka perubahan struktural dan politik dunia, dan tidak hanya dapat dijelaskan dengan kelemahan strategi pembangunan yang dianut. Perubahan global semakin sulit dilakukan menggunakan penerapan pembangunan mandiri terutama setelah Perang Dingin.
iii. Klasifikasi Strategi Pembangunan
Usaha untuk melakukan radical delinking terbukti tidak didukung oleh fakta empiris. Pilihan strategi pembangunan memang hanya antara integrasi dengan sistem dunia ataukah otonomi, ataupun dengan aliran radikal dengan pembangunan bertahap. Dua pilihan ini memang telah menjadi isu utama dalam teori pembangunan yang sudah dimulai sejak kritik List terhadap ekonomi politik inggris.
Friedrich List menyatakan ekonomi politik Inggris sebagai ekonomi politik nasional versus kosmopolitik (Hettne, 1991:145-6). Isu ini yaitu apakah kontradiksi antara pembangunan nasioanal dengan internasional, munculnya ekonomi pembangunan. Ekonomi politik nasional dikembangkan lebih lanjut oleh para penganut teori dependensia, yang mendukung strategi radical delinking dengan pasar dunia. Hal ini seperti yang digambarkan pada gambar 1.







Gambar 1: Klasifikasi Strategi Pembangunan

Griffin (1988) menggolongkan strategi pembangunan menjadi enam, yaitu:
1) Strategi Pembangunan Monetaris
Strategi ini mengasumsikan bahwa efisiensi dalam alokasi sumberdaya akan tercapai dalam jangka panjang. Meskipun untuk mencapai stabilitas ekonomi, dalam jangka pendek akan terjadi krisis. Dalam strategi ini peran Negara dibatasi.
2) Strategi Pembangunan Ekonomi Terbuka
Strategi ini menitikberatkan pada perdagangan luar negeri dan keterkaitan dengan Negara luar sebagai mesin pembangunan. Kebijakan sangat tepat diterapkan pada Negara-negara yang berorientasi pada pembuatan produk yang ditujukan untuk pasar. Strategi ini identik dengan apa yang disebut supply-side oriented state karena menghendaki peran akktif Negara di sisi penawaran.
3) Strategi Pembangunan Industrialisasi
Titi berat strategi ini terletak pada sektor manufaktur yang berorientasi pasar, baik pasar domestic maupun luar negeri, namun peran pemerintah masih dibutuhkan.
4) Strategi Pembangunan Revolusi Hijau
Strategi ini menitikberatkan pada kebijakan untuk meningkatkan produktivitas dan teknologi bidang pertanian sebagai alat untuk memacu pertumbuhan bidang lainnya.
5) Strategi Pembangunan Redistribusi
Strategi ini dimulai dari redistribusi pendapatan dan kesejahteraan serta tingkat partisipasi masyarakat sebagai alat untuk memobilisasi peran serta penduduk dalam pembangunan
6) Strategi Pembangunan Sosialis
Strategi ini lebih menekankan pada peran pemerintah dalam pembangunan: mulai dari perencanaan, perusahaan milik Negara hingga pelayanan masyarakat. Meskipun dalam sistem sosialis peran pemerintah bias bersifat ekstrim atau moderat.
Yang perlu diperhatikan tidak semua Negara menggunakan strategi sesuai dengan teori yang dianut, akibatnya strategi pembangunannya tidak jelas. Ini dikarenakan melemahnya peran NSB dan juga bias akibat krisis ekonomi global. Pembangunan Negara saat ini lebih cenderung pada mengatasi krisis manajemen daripada melakukan transformasi sosio-ekonomi dan pada akhirnya akan mengurangi relevansi teori pembangunan.
Pendekatan yang kedua dalam studi perbandingan strategi pembangunan berdasarkan pada dataran teoritis. Artinya keadaan yang sedang berlaku dan yang akan muncul tidak akan sama dengan teori. Analisis yang berorientasi pada sistem dunia menggarisbawahi keterbatasan pendukung nasionalisme ekonomi dan pendukungnya banyak yang sejalan dengan tradisi pemikiran kaum dependensia.
Menurut Sistem Dunia, terdapat tiga strategi pembangunan (Wallerstein, 1979:76):
1) Strategi Pembangunan dengan Memanfaatkan Peluang Pasar Luar Negeri
Pemerintah berperan aktif dalam memanfaatkan keunggulan komparatifnya untuk memanfaatkan peluan pasar luar negeri. Meskipun haris diakui tidak semua Negara memiliki kemampuan untuk memanfaatkan peluang tersebut.
2) Strategi Pembangunan dengan Mengundang Investasi Luar Negeri
Strategi ini dilakukan dengan memanfaatkan keunggulan komparatif, seperti upah buruh yang murah serta kemudahan-kemudahan lainnya. Disebut juga liberal open door.
3) Strategi Pembangunan Mandiri.
Strategi ini menekankan pada kemampuan dalam negeri dan sesedikit mungkin mendapat bantuan dari pihak luar. Strategi ini kurang berhasil diterapkan pada Negara-negara Dunia Ketiga karena keterbatasan sumber daya manusia maupun alam.
Seers (1983) mengkombinasikan dimensi internal-eksternal (nasionalis versus antinasionalis) dengan dimensi tingkat egalitarianism. Dengan cara ini terdapat empat posisi srategi pembangunan, seperti pada gambar 2. Menurut Seers, dalam setiap kebijakan pembangunan selalu bisa dilakukan manuver, sesuai dengan kondisi obyektif yang dihadapi maupun situasi historis yang diwarisi.









Gambar 2: Klasifikasi Strategi Pembangunan menurut Seers (1983)
Menurut NICs (Newly Industrialized Countries), keberhasilan pembangunan tidak ditentukan pada strategin pembangunan yang dipilih, tetapi lebih ditentukan pada konsistensi dn fleksibilitas dalam menerapkan kebijakan. NICs hanya memberikan saran-saran kepada Negara-negara yang sedang melakukan pembangunan. Ini tidak berarti setiap strategi yang diusulkan oleh NICs akan berhasil dan dapat diterapkan begitu saja di Negara lain. Ini dikarenakan setiap Negara memiliki keunikan dan kesulitan masing-masing dalam proses pembangunannya.








BAB III
Penutup
Kesimpulan:
Krisis teori pembangunan adalah kritikan mengenai kegagalan suatu teori yang digunakan sebagai teori pembangunan karena tidak sesuai dengan relevansi dunia nyata. Penyebab krisis ini bisa berasal dari faktor internal, yaitu faktor perbedaan keadaan masyarakat nyata dengan keadaan masyarakat dalam teori yang digunakan juga campur tangan pemerintah yang tidak pada tempatnya sehingga menyebabkan kekacauan kompleks dalam Negara yang diakibatkan keegoisan sekelompok penguasa untuk kesejahteraan hidupnya sendiri. Akhirnya bukan pembangunan yang berhasil dicapai, tapi rakyat semakin menanggung akibat misusing dana masyarakat dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Selain itu juga ada faktor eksternal, yaitu faktor yang dipengaruhi oleh keadaan Negara lain yang mengadakan internasional dengan Negara lain. Misalnya saja keadaan ekonomi yang kurang stabil juga atmosfir politik Negara yang bersangkutan. Masing-masing faktor ini mempengaruhi satu sama lain sebab terdaat suatu hubungan interdenpendensi dalam suatu hubungan internasional.
Globalisasi teori pembangunan merupakan perbandingan dari teori-teori yang digunakan sebagai strategi pembangunan oleh Negara satu dengan Negara yang lain. Perbandingan ini tentunya memiliki persamaan dan perbedaan juga kesalahan. Kesalahan inilah yang dijadikan koreksi untuk membangun masyarakat global menjadi masyarakat yang memiliki taraf kesejahteraan individu bukan umum.
Namun kesalahan suatu teori pembangunan pasti akan dialami sebab masing-masing Negara memiliki problem dan keunikan masing-masing. Hal yang menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan yaitu konsistensi dan fleksibilitas pemerintah dan rakyat yang menjalankan kebijakan demi mencapai tujuan akhir pembangunan, yaitu kesejahteraan masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA

Kuntjoro,Mudrajad. 20
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar