Senin, 14 November 2011

makalah Analisis Penyebab Inflasi di Indonesia Tahun 2010

Analisis Penyebab Inflasi di Indonesia Tahun 2010

Makalah ini disusun sebagai tugas akhir semester gasal mata kuliah
Pengantar Ekonomi Mikro







Oleh:
Amalia Rizqie Dhirgo Saputrie
1002040001



JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WISNUWARDHANA
MALANG
2011
A. PENDAHULUAN
Masalah pokok ekonomi makro yang masih menjadi masalah inti Negara kita saat ini yaitu inflasi. Masih terdapat perbedaan arti inflasi jika melihat definisinya dari tokoh-tokoh ekonomi. Inflasi dalam Dictionary of Economics didefinisikan dengan suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomian yang berlangsung secara terus-menerus dari waktu ke waktu. Samuelson dan Nordhaus dalam buku mereka Macro Economics mendefinisikan inflasi dengan cukup pendek yaitu tingkat kenaikan harga umum. Mankiw (2000), berpendapat inflasi adalah perubahan presentase dalam seluruh tingkat harga dan sangat bervariasi antarnegara. Sedangkan Bank Indonesia mendefinisikan inflasi dengan kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus-menerus.
Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan, inflasi adalah keadaan dimana tingkat harga barang-barang secara umum mengalami kenaikan. Naiknya harga barang-barang ini tentunya dapat mempengaruhi tingkat kebutuhan masyarakat terhadap permintaan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Ini artinya peredaran uang yang ada di masyarakat akan mengalami kenaikan, menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat akan bertambah. Dengan peredaran uang yang sudah melebihi target pemerintah dapat menyebabkan ketidakseimbangan perekonomian Negara. Inilah yang menjadi dampak berbahaya dari inflasi.
Inflasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis dalam pengelompokan tertentu, yaitu:
1. Menurut Derajatnya
Inflasi ringan di bawah 10% (single digit)
Inflasi sedang 10% - 30%.
Inflasi tinggi 30% - 100%.
Hyperinflasion di atas 100%.
Laju inflasi tersebut bukanlah suatu standar yang secara mutlak dapat mengindikasikan parah tidaknya dampak inflasi bagi perekonomian di suatu wilayah tertentu, sebab hal itu sangat bergantung pada berapa bagian dan golongan masyarakat manakah yang terkena imbas ( yang menderita ) dari inflasi yang sedang terjadi.

2. Menurut Penyebabnya

Demand pull inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh terlalu kuatnya peningkatan aggregate demand atau permintaan agregatif masyarakat terhadap komoditi-komoditi hasil produksi di pasar barang. Akibatnya, akan menarik (pull) kurva permintaan agregat ke arah kanan atas, sehingga terjadi excess demand , yang merupakan inflationary gap. Dan dalam kasus inflasi jenis ini, kenaikan harga-harga barang biasanya akan selalu diikuti dengan peningkatan output (GNP riil) dengan asumsi bila perekonomian masih belum mencapai kondisi full-employment. Pengertian kenaikkan aggregate demand seringkali ditafsirkan berbeda oleh para ahli ekonomi. Golongan moneterist menganggap aggregate demand mengalami kenaikkan akibat dari ekspansi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Sedangkan, menurut golongan Keynesian kenaikkan aggregate demand dapat disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran konsumsi; investasi; government expenditures; atau net export, walaupun tidak terjadi ekspansi jumlah uang beredar.
Pemerintah dapat pula membiayai kenaikan Goverment Expenditure dengan menjual surat-surat berharga kepada masyarakat. Kurva IS akan bergeser ke kanan atas dan kurva LM tidak akan berubah posisi, sehingga kurva permintaan agregat akan bergeser ke kanan, dan mengakibatkan terjadinya kenaikan harga.
Pemerintah juga dapat membiayai Goverment Expenditure dengan cara mencetak uang. Dalam hal ini kurva LM akan bergeser ke kanan karena jumlah uang yang beredar semakin besar, dan kurva permintaan agregat bergeser ke kanan juga. Ini menyebabkan kenaikan harga, sedangkan output tidak mengalami perubahan karena kurva penawaran agregat tidak mengalami pergeseran.







Gbr. 1: demand-pull inflation

Cost push inflation, yaitu inflasi yang dikarenakan bergesernya aggregate supply curve ke arah kiri atas. Faktor-faktor yang menyebabkan aggregate supply curve bergeser tersebut adalah meningkatnya harga faktor-faktor produksi (baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri) di pasar faktor produksi, sehingga menyebabkan kenaikkan harga komoditi di pasar komoditi. Contohnya kenaikan biaya produksi atau tuntutan kenaikan gaji oleh buruh. Dalam kasus cost push inflation kenaikan harga seringkali diikuti oleh kelesuan usaha.







Gbr:Cost-push Inflation
Naiknya biaya (cost) dalam penggunaan iput produksi, menyebabkan naiknya harga jual produksi, ini dikarenakan kebanyakan seorang pengusaha tidak mau menanggung kenaikan biaya input, sehingga konsumen yang menanggungnya. Akibat kenaikan biaya produksi, kurva AS bergeser ke kiri dari AS menjadi AS1 dan menyebabkan output menurun sebesar Y0Y1.
Mixed Inflation, yaitu inflasi yang unsur penyebabnya berupa campuran antara demand-pull dan cost-push, yang secara harfiah dapat kita terjemahkan sebagai tarikan permintaan dan dorongan biaya. Awalnya gejala inflasi yang terjadi memang merupakan murni tarikan permintaan atau dorongan biaya, namun setelah gejala inflasi mulai terasa dampaknya terhadap perekonomian, unsur penyebab timbulnya inflasi yang lainnya mulai ikut bergabung bersama-sam memperhebat laju inflasi.
Interaksi antara unsur tarikan permintaan dan dorongan biaay dalam inflasi dapat dilihat pada gambar dibawah. Misalnya mula-mula perekonomian memiliki permintaan agregatif Ag. D 1 dan penawaran agregatif Ag. S1. Dengan pasangan kurva agregatif tersebut dengan sendirinya perekonomian berada dalam keadaan ekuilibrium pada tingkat pendapatan nasional nyata full-employment OYf, dan tingkat harga ekuilibrium Yfa.
Kemudian dimisalkan akibat desakan serikat-serikat buruh atau disebabkan oleh pemanfaatan kedudukan monopoli atau oligopoli perusahaan-perusahaan dalam perekonomian mengakibatkan kurva penawaran agregatif bergeser ke Ag. S2maka tingkat harga naik setinggi Yub sedangkan deflationary income gap-nya sebesar YuYf







Gbr: Mixed Inflation Curve
Melihat adanya pengangguran dalam perekonomian, pemerintah dengan maksud mengurangi pengangguran tendensinya mengambil kebijakan ekspansi moneter atau fiskal. Kebijakan-kebijakan ekspansi ini dengan sendirinya mengakibatkan bergesenya kurva permintaan agregatif ke kanan. Misalnya saja Ag. D2. Sebagai akibat tingkat kesempatan kerja meningkat akan tetapi tingkat harga naik lebih tinggi lagi. Ini tendensinya menimbulkan tuntutan kenaikan upah. Selanjutnya ini dengan sendirinya kembali mengakibatkan meningkatnya tingkat hargadan menurunyya kesempatan kerja. Ini selanjutnya akan mengakibatkan pemerintah bertendensi kembali mengadakan kebijakan ekspansi. Tindakan ini nantinya akan mengakibatkan tingkat harga naik lebih tinggi lagi, yang selanjutnya diikuti oleh tuntutan kenaikan upah. Demikian seterusnya. Dalam gambar titik ekuilibrium yang mula-mula berada pada a, bergerak ke b, lalu ke c, d, e, f dan seterusnya.
3. Menurut Asalnya
Domestic inflation, yaitu inflasi yang sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan pengelolaan perekonomian baik di sektor riil ataupun di sektor moneter di dalam negeri oleh para pelaku ekonomi dan masyarakat.
Imported inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh adanya kenaikan harga-harga komoditi di luar negeri (di negara asing yang memiliki hubungan perdagangan dengan negara yang bersangkutan). Inflasi ini hanya dapat terjadi pada negara yang menganut sistem perekonomian terbuka (open economy system). Dan, inflasi ini dapat ‘menular’ baik melalui harga barang-barang impor maupun harga barang-barang ekspor.
Terlepas dari pengelompokan-pengelompokan tersebut, pada kenyataannya inflasi yang terjadi di suatu negara sangat jarang (jika tidak boleh dikatakan tidak ada) yang disebabkan oleh satu macam / jenis inflasi, tetapi acapkali karena kombinasi dari beberapa jenis inflasi. Hal ini dikarenakan tidak ada faktor-faktor ekonomi maupun pelaku-pelaku ekonomi yang benar-benar memiliki hubungan yang independen dalam suatu sistem perekonomian negara. Contoh : imported inflation seringkali diikuti oleh cost push inflation, domestic inflation diikuti dengan demand-pull inflation, dsb.

Rumusan masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu sumber-sumber apa yang mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia pada tahun 2010.
Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui sumber-sumber penyebab tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 2010.
B. LANDASAN TEORI TENTANG INFLASI
1) Teori Kuantitas
Teori kuantitas terkenal sebagai salah satu doktrin ekonomi tertua. Bahkan teori ini lahir jauh sebelum Bapak Ekonomi, Adam Smith lahir. Juga dikenal sebagai model kaum moderanis (moderanist model) karena teori ini telah disempurnakan oleh ahli-ahli ekonomi modern. Pada asasnya, teori kuantitas uang merupakan suatu hipotesis mengenai penyebab utama nilai uang atau tingkat harga. Artinya perubahan nilai uang atau tingkat harga terutama dipengaruhi oleh jumlah peredaran uang yang beredar dengan demikian bertambahnya jumlah uang yang beredar akan mengakibatkan menurunnya nilai mata uang. Oleh karena itu, menurunnya nilai uang mempunyai makna yang sama dengan naiknya tingkat harga. Sehingga dapat dilihat bahwa nilai mata uang dan tingkat harga mempunyai hubungan negatif.
Sehingga hubungan antara teori kuantitas dengan inflasi dapat disimpulkan:
a) Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar, baik uang kartal maupun uang giral.
b) Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar dan oleh harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai kenaikan harga di masa mendatang.
Ada tiga kemungkinan keadaan inflasi di tengah-tengah masyarakat, yaitu:
a) Bila masyarakat tidak (atau belum) mengharapkan harga-harga untuk naik pada bulan-bulan mendatang. Sehingga penambahan jumlah uang yang beredar akan digunakan masyarakat untuk menambah likuiditasnya. Penambahan likuiditas ini tidak untuk dibelanjakan untuk pembelian barang-barang. Selanjutnya berarti tidak akan ada kenaikan permintaan barang dan kenaikan harga barang (atau hanya harga akan naik sedikit sekali). Bisa dimisalkan jika kenaikan jumlah uang yang beredar 10% maka kenaikan harga barang sebesar 1%. Keadaan ini dijumpai saat inflasi masih baru mulai dan masyarakat masih belum sadar akan adanya inflasi.
b) Dimana masyarakat sudah mulai sadar akan adanya inflasi sehingga masyarakat menambah likuiditasnya untuk membeli barang-barang. Masyarakat mulai berekspektasi akan kenaikan harga. Penambahan jumlah uang yang beredar tidak lagi diterima oleh masyarakat untuk menambah pos kasnya atau likuditasnya, tetapi akan digunakan untuk membeli barang-barang. Hal ini dilakukan masyarakat untuk menghindari kerugian yang timbul seandainya mereka memegang uang kas. Kenaikan harga (inflasi) tidak lain adalah suatu “pajak” atas saldo kas yang dipegang masyarakat, karena uang makin tidak berharga. Sehingga masyarakat berusaha menghindari pajak ini dengan cara mengubahnya menjadi barang. Sehingga tentunya akan terjadi kenaikan pemintaan agregatif akan barang0barang tersebut. Akibat selanjutnya yaitu kenaikan harga barang-barang. Bila masyarakat mengharapkan harga-harga naik untuk masa mendatang sebesar laju inflasi bulan-bulan lalu maka kenaikan jumlah uang yang beredar diterjemahkan menjadi kenaikan permintaan akan barang-barang. Misalnya dalam hal ini kenaikan jumlah peredaran uang 10%, hal ini akan diikuti dengan kenaikan harga barang-barang sebesar 10% pula. Biasanya hal ini terjadi setelah inflasi berjalan cukup lama dan masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang berlaku.
c) Yaitu tahap inflasi yang paing parah, atau hyperinflation. Dalam hal ini masyarakat sudah kehilangan kepercayaannya terhadap nilai mata uang. Keengganan untuk memegang uang kas dan keinginan membelanjakannya untuk membeli barang begitu uang kas tersebut begitu sampai diterima masyarakat menjadi semakin meluas. Jika dimisalkan, penambahan uang yang beredar sebesar 10%, maka kenaikan harga barang bisa mencapai 20%. Hiperinflasi seperti ini tidak hanya akan menghancurkan sendi-sendi perekonomian moneter. Namun juga sendi-sendi sosial-politik dari suatu masyarakat. Sehingga bisa dikatakan inflasi bukan hanya masalah ekonomi makro, namun juga masalah ekonomi-sosial-politik pada suatu negara.
2) Keynesian Model
Dasar teori dari Model Keynesian ini yaitu inflasi terjadi karena permintaan agregat masyarakat atas barang-barang komoditi melebihi jumlah penawaran agregat yang mengakibatkan munculnya inflationary gap. Faktor yang mempengaruhi peningkatan permintaan agregatif sendiri disebabkan oleh tingkat konsumsi masyarakat yang naik. Tentunya faktor ini sangat dipengaruhi keinginan masyarakat untuk hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya.
Akibat dari kelebihan permintaan agregatif, terjadi keterbatasan jumlah persediaan barang (penawaran agregatif) karena dalam jangka pendek kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk mengimbangi kenaikan permintaan agregat. Sehingga keynesian model ini lebih banyak dipakai untuk menerangkan fenomena inflasi dalam jangka pendek.
Dengan keadaan beli masyarakat yang heterogen, selanjutnya akan terjadi relokasi barang-barang yang tersedia dari golongan masyarakat yang memiliki daya beli yang relatif rendah kepada golongan masyarakat yang memiliki daya beli relatif tinggi. Kejadian ini akan terus terjadi berulang-ulang pada masyarakat dan laju inflasi akan berhenti hanya apabila salah satu golongan masyarakat tidak lagi memiliki daya beli untuk membiayai pembelian barang pada tingkat harga tertentu. Sehingga permintaan agregatif masyarakat tidak melebihi penawaran agregatif yang berlaku (inflationary gap-nya hilang).
C. PEMBAHASAN
Berikut ini adalah laporan tingkat inflasi di Indonesia hingga akhir tahun 2010:
LAPORAN INFLASI (Indeks Harga Konsumen)
Berdasarkan perhitungan inflasi tahunan
Bulan Tahun Tingkat Inflasi
Desember 2010 6.96 %
November 2010 6.33 %
Oktober 2010 5.67 %
September 2010 5.80 %
Agustus 2010 6.44 %
Juli 2010 6.22 %
Juni 2010 5.05 %
Mei 2010 4.16 %
April 2010 3.91 %
Maret 2010 3.43 %
Februari 2010 3.81 %
Januari 2010 3.72 %
Desember 2009 2.78 %
November 2009 2.41 %
Oktober 2009 2.57 %
September 2009 2.83 %
Agustus 2009 2.75 %
Juli 2009 2.71 %
Juni 2009 3.65 %
Mei 2009 6.04 %


Sumber: Bank Indonesia.
Dari data diatas dapat dilihat angka inflasi yang terjadi di Indonesia masih bisa ditekan sampai pada single digit. Tetapi secara umum, angka inflasi ini masih mengandung kerawanan jika dilihat dari seberapa besar prosentase kelompok masyarakat golongan miskin yang menderita akibat inflasi. Dan karena jumlah penduduk golongan miskin saat ini bisa dikatakan sangat banyak, ini artinya walaupun inflasi berhasil ditekan sampai single digit, namun pengaruhnya pada masyarakat sudah berdampak hampir seperti hyperinflation.
Sumber-Sumber Penyebab Inflasi di Indonesia 2010
Jika melihat angka laju inflasi di Indonesia tahun 2010 kemarin, bisa dikatakan pemerintah telah berhasil menekan hingga single digit saja. Namun yang menjadi permasalahan yaitu bagaimana dampak inflasi berpengaruh pada sebagian masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Karena seperti yang sudah disimpulkan, inflasi tidak hanya merupakan suatu permasalahan ekonomi saja. Namun juga permasalahan sosial dan politik.
Keberhasilan pemerintah dalam menekan laju inflasi memang patut diacungi jempol. Namun yang menimbulkan tanda tanya besar adalah mengapa single digit inflation tersebut mampu mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Berikut sumber-sumber inflasi yang mudah ditemukan ditengah-tengah masyarakat oleh penulis:
1. Tingginya inflasi dipicu oleh inflasi kelompok bahan pangan sehubungan terbatasnya beberapa komoditas, seperti beras dan kelompok aneka bumbu sebagai akibat anomali cuaca. Kenaikan harga yang terjadi, khususnya bumbu-bumbu dapur yang mencapai 100% yaitu komoditas cabai menjadi salah satu penyumbang angka inflasi yang cukup tinggi. Ini dikarenakan cuaca yang memang kurang bersahabat, ditambah dengan aktivitas gunung Bromo dan Semeru yang semakin memperparah cuaca. Selain itu kenaikan harga beras yang mencapai 6% pada bulan Desember juga ikut menyumbang angka inflasi cukup tinggi. Ini dikarenakan, selain karena hasil komoditas yang menurun akibat cuaca, juga karena impor beras dari Vietnam berkurang. Terlepas dari situasi ini, komoditas beras juga tetap menjadi faktor dominan penyebab inflasi karena bersifat inelastis. Selain itu kenaikan harga komoditas lain seperti dagung sapi dan ayam juga mempengaruhi inflasi walaupun memberikan sumbangan angka yang tidak terlalu besar.
2. Harga minyak dunia yang melejit. Sepanjang tahun 2010, harga minyak dunia $80-70 AS per barrel. Menjelang akhir 2010, harga minyak melejit hingga $90 AS per barrel. Kenaikan harga minyak dunia ini tentunya sangat mempengaruhi pasokan BBM di Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia tanpa perimbangan kenaikan harga minyak bersubsidi tentunya akan memberi dampak yang kentara pada laju inflasi. Karena permintaan akan BBM akan terus naik karena jumlah kendaraan bermotor turun ke jalan terus bertambah, sehingga permintaan akan BBM tentunya akan terus bertambah. Padahal kenaikan harga minyak dunia yang semakin melejit tentunya akan membuat pemerintah mengurangi jumlah pembeliannya. Ini akan mengakibatkan jumlah permintaan agregatif atas BBM bertambah lebih besar daripada jumlah penawaran agregatif dari pemerintah. Hal inilah ayang memicu munculnya demand-pull inflation.
3. Kenaikan laju inflasi pada bulan Desember memang agak sulit untuk dihindari. Ini karena adanya Hari-Hari Besar Nasional yaitu Natal dan Tahun Baru. Kedua momen ini selalu berhasil menaikkan angka laju inflasi dengan signifikan karena pada kedua momen inilah terjadi kegiatan konsumsi masyarakat yang tinggi. Artinya pada kedua momen ini masyarakat lebih memilih untuk membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas lain yang non-pokok. Selain itu juga pada bulan Desember terdapat banyak diskon-diskon untuk komoditas-komoditas busana yang semakin mempengaruhi masyarakat untuk melakukan konsumsi akan komoditas-komoditas ini. Ini berarti uang yang beredar di masyarakat lebih banyak digunakan keperluan konsumsi, sehingga uang yang seharusnya bisa lebih diproduktifkan hanya digunakan untuk keperluan konsumsi semata. Tingkat konsumsi masyarakat yang berlebih ini mempengaruhi laju inflasi, khususnya pada detik-detik akhir bulan Desember.
4. Jumlah uang yang beredar. Akibat dari tingkat konsumsi masyarakat yang meningkat dan harga-harga kebutuhan pokok yang naik, jumlah uang yang beredar di masyarakat juga bertambah. Namun peredaran uang ini hanya digunakan untuk konsumsi saja, sehingga perputaran uang kartal tidak lancar karena tidak digunakan untuk keperluan produktif, namun untuk konsumtif. Selain itu, upaya pemerintah untuk mulai menanamkan jiwa kewirausahaan juga ikut menyumbang tingkat inflasi. Artinya, upaya pemerintah meningkatkan bunga pinjaman dan menurunkan bunga tabungan tidak dimanfaatkan dengan bijak oleh masyarakat. Dengan meningkatkan bunga pinjaman, pemerintah berharap dapat membimbing masyarakat untuk mulai berwirausaha. Namun yang terjadi justru masyarakat melakukan pinjaman untuk menambah uangnya untuk berkonsumsi. Tujuan pemerintah untuk menstabilkan perputaran uang ini ternyata tidak berhasil. Yang terjadi justru perputaran uang semakin tidak seimbang karena sifat konsumtif masyarakat yang mengalami peningkatan.
D. KESIMPULAN
Dari beberapa kajian diatas, dapat disimpulkan secara umum sumber-sumber inflasi di Indonesia pada tahun 2010. Jika diperhatikan secara mendetail, sebenarnya sumber-sumber inflasi ini memiliki suatu hubungan satu sama lainnya. Jumlah peredaran uang yang meningkat diakibatkan oleh naiknya harga-harga bahan pokok,misalnya beras, karena impor beras dari Vietnam mengalami penurunan. Sehingga harga beras naik karena jumlah penawaran agregatifnya berkurang. Jumlah peredaran uang di masyarakat juga bertambah karena pada akhir tahun terjadi konsumsi yang tinggi akibat pengaruh Hari Besar Nasional dan akhir tahun dan terjadi diskon-diskon yang tinggi pada komoditas-komoditas tertentu sehingga dapat diasumsikan terjadi tuntutan kenaikan upah/gaji oleh pegawai dan buruh. Selain itu faktor cuaca secara tidak langsung ikut mempengaruhi tingkat inflasi karena memang struktur negara kita masih negara agraris, sehingga masih berpedoman pada hasil-hasil pertanian. Sehingga jika terjadi cuaca yang buruk akan mempengaruhi harga dari komoditas-komoditas pertanian. Yang terakhir yaitu faktor impor minyak dunia yang harganya naik mengakibatkan neraca pembayaran defisit bagi Indonesia. Dengan neraca pembayaran yang defisit ini akan mengurangi kas negara dan ini juga berpengaruh pada tingkat laju inflasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 2010.
E. DAFTAR PUSTAKA
Atmadja, Adwin S. Mei 1999. Inflasi di Indonesia:Sumber-Sumber Penyebab dan Pengendaliannya. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, halaman 54-67.
Boediyono. 2005. Ekonomi Makro, Edisi Empat. Yogyakarta:BPFE
Hatta, M. 2008. Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam. Jurnal Ekonomi Ideologis, halaman 7-8
Harian Kompas, 30 Desember 2010.
Mankiw, Gregory N. 2000. Teori Makro Ekonomi,Edisi Ke-4. Jakarta:Erlangga.
Reksoprayitno, Seodiyono. Ekonomi Makro, Analisis IS-LM dan Penawaran-Permintaan Agregatif. Yogyakarta:BPFE
Waluyo, Dwi Eko. 2006. Ekonomika Makro,Edisi Revisi. Malang:UMM Press
www.bi.go.id
www.inilah.com/2010-meleset-pemerintah-kerja-target-inflasi-2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar